Gusdur Dan Abu Nawas


*Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa 'alaa naaril jahiimi



*Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil'azhiimi
Tuhanku. aku tidak layak memasuki surga Firdaus
Tapi aku tak mampu menahan siksa api neraka
Sehingga, terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar

Begitulah, sepenggal bait syair Al I'tiraf yang sering ditampilkan oleh stasiun televisi beberapa saat setelah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat. Lagu tersebut seakan menyayat-nyayat hati tatkala dilantunkan oleh mantan Presiden Indonesia itu, apalagi di saat beliau sudah tiada. 
Tak banyak orang tahu, sang pencipta syair tersebut adalah pujangga besar Arab masa pemerintahan bani Abbasiyah, Al Hasan bin Hani al-Hakami, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Nawas.

Bagi publik Indonesia, Abu Nawas dikenal sebagai sosok yang lucu, cerdas, dan sering melakukan hal-hal yang unik hingga membuat raja kala itu, Raja Harun Al Rasyid di masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah  penasaran.  Akhirnya, Abu Nawas diangkat sebagai penyair kepercayaan raja yang kala itu bertempat di Baghdad Irak. Lalu apa hubungannya dengan Gus Dur?

Semasa hidupnya, Gus Dur adalah tokoh pengagum Abu Nawas. Sehingga wajar, jika orang menyebut Gus Dur adalah Abu Nawas-nya Indonesia, cerdas, lucu, dan suka membuat kontroversi. Namun di balik itu, Gus Dur dianggap sebagai tokoh yang komitmen dengan Islam yang toleran, pluralis, sebagai simbol Islam rahmatan lil alamiin.

Gus Dur juga mengoleksi banyak syair-syair karya Abu Nawas. Tak kurang ribuan bait syair dia hafalkan. Hal ini diceritakan oleh mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indarparawansa.



"Biasanya beliau sambil jalan, sambil melafalkan syiiran Abu Nawas yang saat itu beliau masih hafal 2.000-an bait," kenang Khofifah (berita detikcom, 30 Desember 2009).



"Setiap syair yang dibaca dengan lantunan khas, diterjemahkan, dieksplor, sehingga suatu saat Pak Wimar Witoelar (jubir presiden kala itu) bilang, meski orang sekuler, kalau sering ikut jalan pagi dengan Gus Dur bisa jadi ideolog, " ujar Khofifah.

Tapi dari ribuan bait syair karya Abu Nawas, Al I'tiraf lah yang paling masyhur di tanah air. Di musala-musala kecil di kampung, syair ini dikumandangkan dengan pengeras suara sembari menunggu sang imam datang untuk memimpin salat berjamaah. Di pesantren-pesantren di Jawa Timur, syair ini juga sering dilantunkan.

Tak cuma itu, para artis nasional, seperti Haddad Alwi, bahkan grup nasyid asal Malaysia, Raihan pun juga merilis syair Al I'Tiraf menjadi sebuah lagu. Dan seperti yang telah diduga, lagu itupun laris manis di pasaran tanah air.

Pendiri Museum Rekor Indonesia (Muri), Jaya Suprana pernah menyebut syair Al I'tiraf adalah syair tak lekang sepanjang masa. Dalam sebuah acara talkshow di sebuah stasiun TV saat Gus Dur menjadi presiden, Jaya Suprana tampil apik dengan piano membawakan lagu Al I'tiraf. Dalam acara talk show tersebut, hadir pula Gus Dur sebagai salah satu tamu.

Meski seorang nonmuslim, Jaya Suprana tampak menghayati lau Al'tiraf saat tangannya mulai menyentuh tombol-tombol piano. Matanya tampak redup, seakan menghayati syair demi syair lagu itu yang memang penuh makna.

Syair Al I'tiraf diilhami dari sebuah kisah seorang sahabat yang baru kembali dari medan perang. Saat berada di pintu rumahnya, secara tidak sengaja tiba-tiba nampak olehnya betis seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri sahabatnya yang ketika itu sedang bertamu di rumahnya.
Seketika itu juga ia melompat keluar dari pintu dan berlari meninggalkan rumahnya, menuju tempat yang sepi, selama bertahun-tahun, untuk bertobat kepada Allah SWT atas ketidaksengajaannya. Rintihan tobatnya itulah yang sekarang sering kita dengar dalam lagu Al I'tiraf.
Selamat jalan Gus. Semoga bisa bertemu dengan Abu Nawas di jannatunnaim, surga tempat segala kenikmatan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Gusdur Dan Abu Nawas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel